Wednesday, August 14, 2013

Surga Tersembunyi di Curug Cinulang

TEMPO.CO, Bandung - Jalan aspal mulus mengitari perkebunan jagung dan tembakau serta lembah yang membelah aliran Sungai Citarik, Sumedang, Jawa Barat,  dengan air jernih berkilauan diterpa bola panas raksasa di musim kemarau.

Jalan yang lebarnya hanya cukup untuk dua mobil berpapasan itu menanjak. Tebing curam dengan kebun dan sawah di kiri kanannya menuntut pengendara kendaraan harus ekstra hati-hati saat melintas di jalan yang menuju kawasan wisata alam Curug Cinulang di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat.

Jalan menuju Curug Cinulang paling gampang dilalui melalui jalur utama mudik selatan Jawa Barat menuju arah Cicalengka Nagreg. Namun, pada Lebaran ketiga, Sabtu, 10 Agustus 2013, perjalanan melalui tol Cileunyi dari Bandung cukup padat. Biasanya hanya butuh waktu satu setengah jam dari Bandung ke Curug Cinulang via tol Cileunyi. Namun, kali ini sampai tiga jam perjalanan. Perjalanan melalui Nagreg dan Cicalengka.

Curug Cinulang berada di kawasan hutan lindung Gunung Masigit Kareumbi. Hanya perlu waktu sekitar 20 menit untuk mencapai air terjun kembar Curug Cinulang selepas Cicalengka. Dari kejauhan tampak sepasang air terjun, suara air jatuh menderu. Air terjun itu mirip dua garis putih di antara bebatuan dan pepohonan.
Area parkir dipadati ratusan sepeda motor dan mobil. Setelah memarkirkan mobil, seorang petugas parkir meminta uang parkir Rp 10 ribu tanpa karcis parkir kepada saya.



Selanjutnya saya berjalan menuruni puluhan anak tangga yang cukup curam. Lalu saya  membeli tiket masuk resmi Rp 2.000 untuk memasuki Curug Cinulang, di gerbang tiket di sisi aliran sungai.
Saya pun berjalan menuju air terjun. Tak berapa lama, saya merasakan wajah diterpa angin basah dari air terjun. Suara gemuruh air dan teriakan wisatawan membawa saya ke sebuah jembatan bambu di atas aliran Sungai Citarik. Di sisi kiri dua air terjun kembar Curug Cinulang memutih dengan latar belakang dinding batu hitam, sinar matahari memberi aksen lain pada wisatawan yang berdiri di bawahnya.

Di sisi kanan, ada aliran air yang membentuk air terjun kecil yang membasahi dinding batu hitam menjulang. Disisi kanan ini, anak-anak dan perempuan dewasa bermain air di bawahnya, debit air di sana tidak terlalu deras sehingga aman untuk mereka.

Beruntung saat ini musim kemarau, air sungai pun tidak keruh. Tapi, saat hujan, air sungai berubah cokelat dengan debit air sangat besar dan berbahaya untuk dikunjungi. "Orang yang datang ke sini belum banyak, tidak terlalu padat seperti tahun sebelumnya. Mungkin takut terjebak macet dan baru datang besok," kata Siti, pedagang jagung di kawasan itu.

Di atas jembatan seorang wisatawan tampak basah kuyup sambil menyeruput kopi yang dibelinya dari warung-warung yang banyak terdapat di sekitar air terjun. Air di sini segar sekali, saya dan teman-teman berencana main air sampai puas," ucap Yanto, wisatawan asal Bandung,

Sigit, wisatawan asal Jakarta yang baru pertama kali datang bersama keluarganya ke Curug Cinulang tak sengaja mampir ke Curug Cinulang. Tadinya mereka berencana main ke ke Garut, tapi karena  macetnya bukan main, di tengah jalan, dia melihat papan penunjuk arah ke Cinulang. "Ya sudah kita belok saja. Ternyata kawasan wisata air terjun ini sangat indah," ujarnya.

Curug Cinulang terkenal sebagai surga tersembunyi, keindahan air terjunnya, pemandangan alamnya yang cantik, udaranya yang dingin, dan airnya yang jernih berkilauan. Kemolekan pemandangan itulah yang membuat setiap orang yang pernah datang ingin datang, dan datang lagi.

Namun di balik keindangan Curug Cinulang, sayangnya pemerintah tak mengelola kawasan wisata ini dengan infrastruktur yang layak. Parkir ilegal yang mematok harga tinggi, mungkin akan membuat pengunjung kapok untuk datang lagi. Jadi, tak cukup hanya menjual kemolekan alam, tanpa pengelolaan yang baik.
PRIMA MULIA

No comments:

Post a Comment