Wednesday, August 14, 2013

Memantau Elang Jawa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

TEMPO.CO, Malang - Populasi elang Jawa di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bertambah dari kisaran lima-enam ekor pada 2012 saat ini menjadi sekitar sembilan ekor. Elang yang terpantau terdiri atas tiga pasang elang Jawa dewasa ditambah dua ekor elang Jawa anakan dan seekor elang Jawa remaja.

Pertambahan populasi elang Jawa diketahui dari hasil pengamatan kedua oleh Tim Pemantau Elang Jawa Balai Besar TNBTS pada 31 Juli sampai 4 Agustus 2013. Adapun pemantauan pertama dilakukan pada 25-29 September 2012. Wartawan Tempo termasuk salah seorang anggota tim.

Koordinator Tim Pemantau Elang Jawa Balai Besar TNBTS Elham Purnomo menjelaskan, jumlah populasi yang terpantau kali ini melebihi target prioritas penambahan populasi elang Jawa sebanyak 3 persen, seperti yang ditetapkan Ditjen PHKA (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) pada 2010. “Yang terpantau kali ini memang lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu,” katanya kepada Tempo di kantornya, Selasa, 13 Agustus 2013.

Elham menjelaskan, pengamatan dilakukan di dua Wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, yakni Wilayah Resor Pengelolaan Hutan Taman Nasional (RPTN) Coban Trisula, dan RPTN Jabung.

Pengamatan di RPTN Jabung dipusatkan di Blok Bendolawang, Desa Ngadirejo, serta Blok Cincing, Desa Sukopuro. Kedua desa tersebut berada di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Sedangkan pengamatan di RPTN Coban Trisula dipusatkan di pos pantau obyek wisata air terjun itu, persisnya di sepanjang jalan yang merupakan akses ke Gunung Semeru dan Gunung Bromo.



Di Blok Bendolawang, tim menyaksikan kemunculan elang Jawa di antara berbagai jenis burung lainnya. “Kemunculan banyak burung di Bendolawang mengindikasikan hutan TNBTS masih berkondisi bagus sebagai habitat burung, termasuk elang Jawa,” ujar salah seorang anggota tim, Toni Artaka.

Momentum terbaik didapat tim saat menyaksikan kemunculan mendadak sepasang elang Jawa, induk dan anak, di Blok Bendolawang pada Kamis, 31 Juli 2013. Sang induk sedang mengajari anaknya terbang.

Pemantauan di Blok Cincing, tim menyaksikan elang Jawa dewasa yang terbang rendah dan berputar-putar sekitar dua menit di wilayah terbuka perbatasan hutan TNBTS dan Perhutani.

Toni memastikan elang Jawa ini berasal dari individu yang sama yang terpantau di Blok Bendolawang pada Jumat, 1 Agustus 2013.

Pada pengamatan pertama tahun lalu, tim mencatat kemunculan elang jawa rata-rata seekor di RPTN Jabung dan RPTN Coban Trisula. Namun, nihil di RPTN Patok Picis.

Kendati jumlah yang terpantau pada 2012 sangat sedikit, itu sudah cukup bagi Balai Besar TNBTS untuk memastikan bahwa elang Jawa resmi menjadi salah satu satwa penghuni kawasan TNBTS. Sebelum September 2012 tak pernah ada catatan dan data resmi keberadaan elang Jawa di sana.

Elang Jawa berstatus genting karena terancam punah. Elang Jawa mendapat perlindungan hukum berskala internasional dan nasional. Di dalam negeri, misalnya, elang Jawa bersama 13 spesies lain mendapat prioritas utama untuk dilindungi dan populasinya ditingkatkan sebanyak 3 persen sepanjang kurun 2010-2014.

Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: SK.132/IV-KKH/2011 Tanggal 8 Juli 2011 tentang Penetapan Empat Belas Spesies Terancam Punah.

Menurut Heru Cahyono, kemunculan elang Jawa anakan dan elang Jawa dewasa mengindikasikan bahwa reproduksi elang Jawa relatif berhasil. Sebab, proses reproduksi elang Jawa tergolong lambat. Dalam dua tahun, elang Jawa betina hanya bertelur satu butir dan itu pun dengan risiko gagal menetas akibat sarang rusak atau telurnya hilang akibat pencurian oleh para pemburu.

ABDI PURMONO

No comments:

Post a Comment